Oleh : Rusdan Latora, M.FIL.I
Di Banda Naira, nama Hatta dan Sjahrir ada di mana-mana. Nama keduanya melekat pada dinding, jalan, bangunan, buku, hingga memori kolektif masyarakat. Keduanya pernah menjalani masa hukuman pengasingan. Dan Pemerintah Kolonial Belanda memindahkan keduanya dari Boven Digoel, Papua ke Banda pada 1936–1942.
Namun, warisan terpenting kedua tokoh itu bukan sekadar nama, tempat yang pernah mereka tinggali, patung, atau monumen. Warisan terbesar mereka adalah pikiran. Maka, ketika berbicara tentang masa depan Banda, pertanyaannya bukan berapa banyak patung Bung Hatta dan Sjahrir yang perlu dibangun, melainkan apa yang dapat kita lakukan agar gagasan mereka tetap hidup.
Hatta dan Sjahrir menempatkan pendidikan serta pengetahuan sebagai bagian penting dari perjuangan membangun Indonesia.
Menghormati keduanya berarti meneruskan semangat itu: memperkuat pendidikan, mengembangkan perpustakaan, menghidupkan masjid sebagai pusat pembelajaran, memperluas penelitian, dan memperkuat perguruan tinggi. Bagi Hatta, pendidikan bukan sekadar alat perjuangan, tetapi jalan untuk menjaga pikiran tetap hidup.
Dari Warisan Sejarah Menjadi Pengetahuan
Banda sesungguhnya memiliki modal besar untuk membangun peradaban pengetahuan. Sejarahnya panjang dan warisan budayanya kaya.
Benteng, rumah pengasingan, gereja tua, masjid, makam, serta berbagai bangunan peninggalan masa lalu merupakan bagian penting dari sejarah kepulauan ini. Semuanya harus dirawat dan dilindungi.
Namun, perhatian terhadap sejarah tidak boleh berhenti pada romantisasi bangunan, pemasangan papan informasi, atau menjadikan situs sejarah sekadar latar untuk berfoto.
Di balik setiap benteng terdapat cerita. Di balik setiap rumah ada manusia. Di balik perdagangan pala terdapat jaringan ekonomi, sosial, dan politik. Di balik kolonialisme terdapat pengalaman tentang penderitaan, perlawanan, perpindahan penduduk, perubahan sosial, dan berbagai kisah masyarakat yang belum seluruhnya ditulis. Di situlah pekerjaan besar kita.
Sejarah Banda harus terus digali.
Sejarah Banda bukan hanya sejarah yang ditulis dari sudut pandang kolonial. Bukan hanya kisah VOC, benteng, dan perdagangan pala. Sejarah Banda juga merupakan sejarah masyarakatnya: orang Banda, ulama, pedagang, petani pala, nelayan, perempuan, anak-anak, serta berbagai kelompok pendatang yang datang, menetap, berbaur, dan membentuk kehidupan sosial Banda. Keragaman pengalaman itu harus menjadi bagian dari pengetahuan. Dalam konteks inilah perguruan tinggi memiliki posisi strategis.
Kampus sebagai Rumah Pengetahuan Banda
Kampus di Banda, Universitas Banda Naira, tidak semestinya hanya dipahami sebagai tempat mahasiswa mempelajari teori akademik. Kampus juga harus menjadi ruang untuk memahami identitas sejarah, budaya, dan kearifan lokal sebagai modal sosial pembangunan.
Kampus harus melahirkan lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap sejarah, kebudayaan, lingkungan, dan masa depan masyarakat Banda.
Dengan begitu, kampus dapat menjadi pusat lahirnya inovasi yang berakar pada kebutuhan masyarakat.
Kampus harus menjadi mercusuar. Ia menerangi masyarakat sekaligus menjadi pusat pengembangan pengetahuan tentang Banda.
Sejarah, kebudayaan, pala, jalur rempah, masyarakat kepulauan, sejarah maritim, migrasi, agama, pendidikan, kolonialisme, lingkungan, hingga perubahan sosial merupakan bidang yang dapat dikembangkan secara serius.
Mahasiswa tidak cukup belajar tentang Banda dari buku. Mereka perlu datang ke kampung-kampung, mendengar cerita para tetua, merekam sejarah lisan, mendokumentasikan tradisi, membaca arsip dan manuskrip, serta mengkaji perubahan kehidupan masyarakat.
Ketika sebuah tradisi mulai ditinggalkan generasi muda, kampus harus hadir sebelum pengetahuan itu hilang.
Mahasiswa dapat merekam sejarah lisan dari para tetua kampung. Dosen dapat meneliti asal-usul dan perubahan tradisi. Hasilnya dapat dikembangkan menjadi buku, arsip digital, bahan ajar, film dokumenter, atau pusat dokumentasi kebudayaan.
Dengan cara itu, kampus tidak sekadar berbicara tentang masyarakat. Kampus bekerja bersama masyarakat. Banda juga tidak boleh hanya menjadi objek penelitian orang luar. Masyarakat Banda harus menjadi subjek dalam produksi pengetahuan tentang daerahnya sendiri.
Kampus dapat menjadi ruang untuk mengumpulkan arsip, meneliti manuskrip, merekam sejarah lisan, mendokumentasikan situs, serta mengkaji perjalanan masyarakat Banda dari masa ke masa.
Sejarah kolonial tentu penting. VOC, perdagangan pala, benteng, dan berbagai peninggalan kolonial merupakan bagian dari sejarah Banda. Tetapi sejarah Banda tidak berhenti di sana.
Ada sejarah masyarakat yang hidup sebelum, selama, dan setelah kolonialisme. Ada sejarah ulama, pedagang, petani pala, nelayan, perempuan, anak-anak, para pendatang, serta berbagai komunitas yang ikut membentuk kehidupan sosial Banda.
Semua itu layak ditulis. Semua itu layak diteliti. Dan semua itu layak diwariskan kepada generasi berikutnya.
Menghubungkan Sejarah dengan Masa Depan
Kampus juga harus mampu menghubungkan sejarah dengan kebutuhan masa kini. Penelitian tentang pala, misalnya, tidak cukup berhenti pada bagaimana pala diperdagangkan pada masa lalu. Kajian itu harus dilanjutkan pada pertanyaan: bagaimana pala dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Banda hari ini?
Begitu pula kajian tentang jalur rempah. Ia tidak cukup berhenti pada cerita pelayaran masa lalu. Jalur rempah dapat dikembangkan menjadi pengetahuan, pendidikan, ekonomi kreatif, hingga pariwisata berbasis masyarakat.
Di sinilah perbedaan antara kampus yang hanya hadir secara fisik dan kampus yang benar-benar hidup. Mahasiswa belajar bukan hanya dari dosen, tetapi juga dari masyarakat. Dosen tidak hanya mengajar, tetapi juga melakukan penelitian dan pengabdian. Masyarakat tidak hanya menjadi penerima program, tetapi menjadi mitra dalam menghasilkan pengetahuan.
Bangun Banda dengan Jalan Pendidikan
Gagasan ini sebenarnya bukan sesuatu yang sama sekali baru. Banda memiliki sejarah panjang perjuangan pendidikan. Generasi setelah Hatta dan Sjahrir juga menunjukkan bahwa pembangunan manusia merupakan bagian penting dari masa depan Banda.
Des Alwi merupakan salah satu nama yang penting disebut dalam mata rantai itu. Begitu pula Prof. Dr. Hamadi dan Dr. Usman Talib. Kemudian, Dr. Muhammad Farid turut mendorong gagasan yang lebih jauh: menghadirkan perguruan tinggi di tingkat kecamatan.
Hadirnya universitas di Banda tidak saja peristiwa administratif berupa berdirinya sebuah lembaga pendidikan tinggi. Ia merupakan bagian dari sejarah panjang perjuangan pendidikan di Banda.
Ada mimpi agar anak-anak Banda tidak selalu harus meninggalkan kampung halaman untuk memperoleh pendidikan tinggi.
Mimpi itu pernah tergambar dalam sebuah ungkapan sederhana seorang anak Banda ketika kapal hendak meninggalkan dermaga:
“Mama, beta tara mau kas tinggal Banda… Banda juga bagus bagini eee.”
Ungkapan itu mungkin terdengar sederhana. Namun, di dalamnya ada keterikatan yang kuat terhadap tanah kelahiran. Ada keinginan untuk tetap tinggal, tetapi sekaligus memperoleh kesempatan untuk maju. Hari ini, mimpi itu mulai menemukan bentuknya. Banda memiliki universitas.
Bagi daerah lain, kehadiran sebuah perguruan tinggi mungkin dianggap biasa. Namun, bagi wilayah kepulauan seperti Banda, kehadiran universitas memiliki arti strategis.
Ia mendekatkan akses pengetahuan kepada masyarakat. Anak-anak dari pulau-pulau kecil memperoleh kesempatan menempuh pendidikan tinggi tanpa harus selalu pergi jauh. Masyarakat mendapatkan ruang untuk mengembangkan gagasan.
Sejarah dan kebudayaan Banda pun memiliki rumah akademik untuk dikaji secara lebih serius. Karena itu, perguruan tinggi di Banda jangan hanya dipertahankan sebagai institusi pendidikan. Ia harus dikembangkan menjadi pusat peradaban.
Kampus harus mampu menghubungkan masa lalu dengan masa depan. Cagar budaya menyimpan ingatan, sedangkan kampus mengolah ingatan itu menjadi pengetahuan. Pariwisata menghadirkan pengalaman sejarah, sedangkan perguruan tinggi memastikan sejarah itu dipahami secara kritis dan ilmiah.
Jangan sampai Banda hanya menjadi museum masa lalu. Orang datang, melihat benteng, rumah tua, dan kebun pala, mengambil gambar, lalu pulang. Sementara masyarakat yang hidup di dalam sejarah itu sendiri tidak memperoleh manfaat pengetahuan yang memadai dari kekayaan sejarahnya. Banda harus lebih dari sekadar destinasi wisata.
Banda harus menjadi tempat lahirnya gagasan.
Tentu kita membutuhkan pembangunan infrastruktur. Jalan harus diperbaiki. Pelabuhan harus dibenahi. Air bersih harus tersedia. Pariwisata perlu dikembangkan. Semua itu penting. Namun, pembangunan fisik bukan satu-satunya ukuran kemajuan.
Yang jauh lebih penting adalah membangun manusia yang mampu merawat, mengembangkan, dan memanfaatkan seluruh potensi yang dimiliki Banda.
Manusia yang memahami sejarahnya, menguasai ilmu pengetahuan, mampu membaca perubahan, tidak kehilangan akar, tetapi juga tidak terperangkap dalam masa lalu.
Karena itu, arah pembangunan Banda perlu bergerak dari sekadar merawat warisan menuju membangun peradaban.
Monumen yang Hidup
Banda memiliki sejarah dunia dalam ruang yang kecil. Tetapi sejarah yang besar tidak otomatis menjadikan sebuah daerah besar. Sejarah harus diolah menjadi pengetahuan. Pengetahuan harus menjadi pendidikan. Pendidikan harus melahirkan manusia. Dan manusia itulah yang membangun peradaban. Maka, jika kita ingin membuat monumen untuk Hatta dan Sjahrir, sebaiknya kita membangun monumen yang hidup.
Bangun sekolah. Bangun perpustakaan. Hidupkan masjid sebagai pusat pendidikan. Kembangkan pusat studi. Perkuat penelitian sejarah dan kebudayaan. Dokumentasikan ingatan masyarakat. Dan kuatkan universitas.
Dengan begitu, Hatta dan Sjahrir tidak hanya hadir dalam bentuk nama jalan atau bangunan. Pikiran mereka berjalan. Hidup di ruang kelas. Hidup di perpustakaan. Hidup di kampus. Hidup dalam cara generasi muda Banda memahami sejarah dan memandang masa depan.
Itulah penghormatan yang lebih bermakna kepada dua tokoh yang pernah diasingkan di Banda, tetapi justru menjadikan masa pengasingan sebagai ruang untuk membaca, berpikir, dan membayangkan masa depan Indonesia.
Banda tidak kekurangan sejarah. Tidak kekurangan warisan budaya. Tidak pula kekurangan cerita. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk mengubah semuanya menjadi kekuatan baru.
Jangan hanya membangun Banda agar masa lalunya terlihat indah. Bangunlah Banda agar masa lalunya mampu menerangi masa depan.
Sebab sebuah daerah tidak menjadi besar karena banyaknya monumen. Daerah menjadi besar ketika generasinya mampu membaca sejarah, menguasai ilmu pengetahuan, dan menciptakan masa depannya sendiri. Di tengah proses itu, kampus harus menjadi salah satu mercusuarnya.*
Editor: Kasman Renyaan
Posted in Artikel Dosen