Artikel Dosen

Home » Penelitian » Artikel Dosen » Jalur Berliku Sertifikasi Dosen

KR

Jalur Berliku Sertifikasi Dosen

By : Kasman Renyaan

Menuju Sertifikasi Dosen (Serdos) itu, seperti menempuh perjalanan panjang yang menanjak penuh tikungan tajam. Tidak saja soal ilmu, tapi juga soal mental dan daya juang. Ada berkas administratif yang harus dipenuhi, ada ketekunan, pengorbanan, dan komitmen kuat dalam menjalankan Tridarma Perguruan Tinggi.

Proses itu dijalani dengan teliti, berpacu dengan waktu, sambil memenuhi berbagai syarat yang rasanya terus bertambah. Ibarat lari marathon. Bukan soal siapa paling cepat, tapi siapa yang bisa terus bertahan sampai garis finish.

Sejak bergabung sebagai dosen di STKIP Hatta Sjahrir tahun 2020 (yang sekarang sudah bertransformasi jadi Universitas Banda Naira atau UBN), saya berkomitmen menjalankan Tridarma (pengajaran, pengabdian, dan penelitian) dengan sepenuh hati.

Tak lama setelah itu, saya diberi kepercayaan mendampingi mahasiswa KKN di Pulau Rhun, sebuah pulau kecil nan terpencil di ujung barat Banda Naira. Di sanalah saya menemukan fakta menyedihkan: banyak anak lulusan SMP dan MTs harus berhenti sekolah karena akses pendidikan ke Naira terlalu jauh. Dari situ, lahir niat dan tekad bersama untuk mendirikan Madrasah Aliyah Sairun di Pulau Rhun.

Saya pun dipercaya sebagai ketua tim pendiri, meskipun saat itu kami juga tengah sibuk mengurus alih status kampus dari sekolah tinggi menjadi universitas. Ketika UBN resmi disahkan oleh Kemendikbudristek dan Madrasah Aliyah Sairun memperoleh izin operasional dari Kemenag Maluku, saya juga ditunjuk sebagai kepala madrasah. Jadilah saya menjalani peran ganda: dosen sekaligus ketua prodi Pendidikan Sejarah, dan kepala madrasah.

Di tengah semua kesibukan itu, saya selalu menyempatkan waktu untuk melakukan riset mandiri setiap kali berada di Pulau Rhun. Dari situ lahirlah karya ilmiah berjudul “Pulau Rhun: Jalur Rempah, Kolonialisme, dan Diaspora Buton” yang saya presentasikan dalam konferensi internasional ICBS 2023 dan terbit dalam bentuk prosiding.

Saya juga berkolaborasi dengan rektor UBN menulis buku berjudul “Kearifan Lokal Masyarakat Pulau Rhun” yang didukung Dana Indonesia 2023 dan akhirnya terbit pada 2025. Tahun yang sama, saya ikut dalam riset dan festival budaya di Papua Barat. Dari sana lahir video dokumenter dan buku “Pisombo: Tradisi Adat Masyarakat Buton Kampung Kayu Merah.”

Sebelumnya, saya juga menerbitkan jurnal SINTA 3 berjudul “Mohammad Hatta and Religious-Nationalism Education in Banda Exile” (2024) dan buku “Ragam Sejarah Tentang Buton dan Maluku” (2023).

Semua jejak pengabdian dan penelitian ini jadi dasar pengajuan kenaikan jabatan fungsional saya dari Asisten Ahli ke Lektor, sekaligus syarat penting dalam persiapan Serdos. Tapi ya, jalannya tidak semulus yang dibayangkan.

Proses pengajuan JAFUNG benar-benar menguji kesabaran. Lima kali revisi dokumen dan setiap revisi seperti “ngulang dari nol” yang bikin energi dan waktu terkuras habis. Tapi saya tetap jalan terus. Akhirnya, JAFUNG saya resmi terbit.

Saat semua ini berjalan, saya juga diuji secara pribadi. Di tengah persiapan Serdos, anak saya yang kedua harus kontrol intensif di rumah sakit Ambon. Sementara waktu terus berjalan, dan saya dihadapkan pada pilihan sulit: mendampingi keluarga atau kembali ke Banda Naira untuk menyelesaikan tanggung jawab akademik.

Dengan hati yang campur aduk, saya akhirnya memilih kembali ke Naira. Bukan keputusan mudah, apalagi saat tahu anak dan istri masih butuh kehadiran saya. Tapi tanggung jawab sebagai dosen menuntut saya untuk tetap melangkah. Perjalanan laut kali itu benar-benar menguji mental angin Timur bertiup kencang, gelombang menghantam lambung kapal sampai terasa ke dada.

Saat menyelesaikan syarat usulan Serdos, tantangan teknis juga cukup menguras energi. Video pembelajaran yang saya rekam menggunakan ponsel harus diulang dua kali karena suara tidak terekam dengan jelas. Koneksi internet yang tidak stabil pun membuat proses unggah dokumen jadi perjuangan tersendiri, begadang pun jadi rutinitas.

Laporan BKD saya pun sempat tersendat karena miskomunikasi dengan asesor. Tapi berkat bantuan rekan-rekan dosen, tendik di UBN, serta senior sejarawan, semua bisa diselesaikan tepat waktu.

Dari semua proses ini, saya sadar satu hal penting: Serdos itu bukan cuma soal tumpukan dokumen administratif. Lebih dari itu, Serdos menguji komitmen, tanggung jawab, dan keteguhan hati. Keberhasilan sejati tidak datang dari usaha sendiri, tapi dari dukungan dan semangat yang datang dari orang-orang di sekitar kita.

Saya bersyukur banget dikelilingi oleh orang-orang hebat, rekan kerja yang baik, panitia Serdos UBN yang selalu siap bantu, teman-teman sejawat yang terus mengingatkan dan menyemangati, serta keluarga yang sabar menunggu dan selalu mendoakan.

Buat saya, Serdos adalah perjalanan pengabdian yang nyata. Meski banyak rintangan, mulai dari teknologi yang kadang rewel, waktu yang mepet, sampai pergulatan batin, saya tetap memilih untuk terus melangkah. Karena saya percaya, jadi dosen itu bukan hanya soal mengajar, tapi juga menginspirasi.

Dan semua ini adalah buah dari doa-doa orang tua, istri, serta senyum manis anak-anak, keluarga yang tak pernah putus, doa yang menembus langit dan terus menyalakan semangat pengabdian di tengah gelapnya perjalanan hidup. **

Posted in

Artikel Terbaru

Archives

Kategori