By; Kasman Renyaan
Beberapa hari yang lalu, saya akhirnya mendapat sertifikat kenaikan jabatan fungsional dari Asisten Ahli menjadi Lektor. Sederhana wujudnya, tipis dan ringan, tapi bobot maknanya., seperti mengangkat Lewerani, gunung Api Banda Naira di atas pundak sendiri. Rasa syukur, haru, dan bahagia bercampur aduk, tumpah ruah.
Prosesnya? Jangan ditanya. Lima kali saya mengajukan usulan berkas admistrasi online itu. Lima! Rasanya ibarat ditampar angin timur di Laut Banda; dingin, keras, dan gelombangnya mengaduk nyali. Ngeri-ngeri sedap, tapi cukup untuk membuat semangat nyaris karam.
Ditolak bukan karena substansi, tapi karena hal remeh-temeh administratif, persis seperti gagal naik kapal Sabuk Nusantara karena lupa bawa sandal jepit.
Pada pengajuan terakhir, yang entah keberapa kalinya saya pasrah. Saya lampirkan dua buku: satu karya tunggal hasil renungan panjang yang ditulis di antara malam-malam tanpa tidur, dan satu lagi hasil kolaborasi yang dipenuhi kompromi dan diskusi seolah menyatukan dua benua. Keduanya membahas tema sejarah dan budaya, bidang yang sudah saya selami sejak umur masih bau toga.
Sejak S1 saya menulis skripsi bertema budaya, dan S2 pun saya lanjutkan dengan tesis tentang sejarah budaya. Jadi jangan bertanya tentang keaslian ijazah atau karya ilmiah saya?
Tak cukup sampai di situ. Saya juga mengajukan satu artikel ilmiah yang berhasil menembus jurnal Sinta 3, meski tiga artikel lain hasil kolaborasi bersama mahasiswa, terbit dijurnal Banda Historia, yang berlum terakreditasi Sinta terpaksa saya simpan saja. Bukan karena tak layak, tapi karena beban administrasi itu bisa merontokkan semangat lebih cepat dari angin Barat yang bertiup dari di laut Pulau Rhun.
Saya lampirkan pula dua HAKI untuk buku, yang royalti cetaknya sudah masuk ke rekening saya, walau mungkin hanya cukup untuk membeli satu bungkus nasi kuning dan secangkir kopi hitam di warung pagi. Tapi tetap, itu bentuk pengakuan.
Laporan pengabdian dan pengajaran pun saya unggah ke portal Jafa LLDIKTI Wilayah XII, tempat di mana file mengantre seperti jamaah shalat Idulfitri di lapangan terbuka yang hanya punya satu keran wudhu.
Lalu, pagi tadi, 24 Agustus 2025, semesta seperti mengedipkan mata. Saya diwawancarai oleh tim peneliti dari Balai Pelestarian Cagar Budaya. Kami ngobrol hangat soal bangunan tua warisan tokoh bangsa, tentang sejarah bangunan itu dan rencana revitalisasi bangunan cagar budaya itu.
Menjelang akhir pertemuan, salah satu dari mereka tersenyum sambil mengeluarkan secarik kertas, lalu berkata, “Tandatangan kuitansi dulu ya, Pak… ada sedikit penghargaan.”
Saya pun tersenyum. Sedikit? Tak apa. Toh, di tengah harga cabai yang bikin dada sesak, secuil penghargaan tetap terasa seperti bonus lebaran di akhir bulan: datang tak terduga, tapi bikin hati lega.
Posted in Artikel Dosen