SEJARAHnews, Banda: Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah (PSJ) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Banda Naira (UBN), Kasman Renyaan, menjadi narasumber dalam Mini Workshop Series yang diselenggarakan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Dunia kawasan Amerika–Eropa (AMEROP). Kegiatan tersebut digelar secara daring melalui Zoom Meeting pada Sabtu, 31 Januari 2026, pukul 20.00 WIB.
Mini workshop ini merupakan rangkaian awal dari program utama pengabdian kepada masyarakat yang akan dilaksanakan PPI AMEROP di Banda Naira pada pertengahan 2026. Kegiatan ini difokuskan pada upaya memperkenalkan dan memperdalam pemahaman mengenai ketahanan pulau kecil (island resilience), budaya, sejarah, serta pemberdayaan masyarakat kepulauan.
Koordinator Pengurus PPI Dunia Kawasan Amerika–Eropa, Gerry Utama, dalam surat permohonan bernomor 016/KM5/PPIDKAMEROP/I/2026 tertanggal 29 Januari 2026, menyatakan bahwa diskusi ini diarahkan untuk membahas dinamika sosial, budaya, dan historis Banda Naira.
Menurut dia, Banda Naira memiliki posisi penting dalam sejarah perdagangan rempah global. Forum tersebut juga diharapkan menjadi ruang pertukaran gagasan sekaligus perumusan awal program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.
Sesi pertama mini workshop mengangkat tema “Island Resilience, Culture, Memory, and Community Empowerment” yang dibagi ke dalam dua subtema. Subtema pertama dikemas dalam format talk show bertajuk “Mengenal Banda Neira Lebih Dekat: Sejarah dan Masyarakat.”
Sesi kedua bertajuk “The Anatomy of Island Resilience” dan dilaksanakan dalam bahasa Inggris. Sesi ini menghadirkan dua narasumber, yakni Professor Nichola Minott dari College of Social Sciences and Humanities, Northeastern University, yang membahas lingkungan, keberlanjutan, dan ketahanan pulau-pulau kecil dalam konteks komunitas dan budaya, serta Professor Zainal Arifin dari Research Centre for Oceanography, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang memaparkan isu pembangunan berkelanjutan dan ketahanan pulau-pulau kecil di Indonesia.
Dalam pemaparannya pada sesi pertama, sejarawan UBN Kasman Renyaan mengangkat materi berjudul “Vitalitas Banda Neira dalam Perspektif Sejarah dan Budaya serta Potensinya sebagai Pulau Kecil di Indonesia.” Ia menjelaskan Banda Naira sebagai simpul penting dalam sejarah perdagangan rempah dunia yang sejak abad ke-16 menjadi ruang perjumpaan berbagai budaya dan menarik kedatangan pedagang Eropa, mulai dari Portugis, Belanda, hingga Inggris.
Menurut Kasman, persaingan memperebutkan Banda mencapai puncaknya pada abad ke-17, ketika Inggris menukarkan Pulau Rhun dengan Manhattan, New York, untuk mengakhiri konflik dengan Belanda. Jejak sejarah tersebut, kata dosen yang menekuni kajian sejarah budaya itu, tidak hanya terekam dalam arsip dan memori kolektif, tetapi juga hadir dalam bentuk tinggalan kolonial yang tersebar di pulau-pulau kecil di Banda dan kini berstatus cagar budaya.
Selain kaya akan sejarah, Banda Naira juga memiliki kekayaan budaya, baik benda maupun nonbenda, serta potensi bahari yang menjanjikan. Namun, kondisi Banda saat ini perlu menjadi perhatian bersama, terutama dalam agenda pemajuan kebudayaan, pelestarian warisan sejarah dan cagar budaya, serta penanganan pencemaran lingkungan, khususnya persoalan sampah plastik yang hingga kini masih menjadi masalah.
Pengelolaan pariwisata budaya dan sejarah pun perlu dilakukan secara berkelanjutan dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat, tanpa mengorbankan nilai-nilai lokal dan kelestarian lingkungan.
Diskusi kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Salah satu penanya, Andi Tahufan, dosen Program Studi D3 Agribisnis Perikanan Politeknik Perikanan Negeri Tual, menyoroti Banda Neira yang tidak hanya kaya sejarah dan budaya, tetapi juga memiliki potensi perikanan yang melimpah.
Menurut dia, potensi itu dapat menjadi bahan kajian dalam pengembangan program pengabdian kepada masyarakat, termasuk penguatan kearifan lokal sasi sebagai upaya menjaga kelestarian sumber daya laut.
Melalui kegiatan ini, PPI Dunia AMEROP berharap dapat memperkuat keterlibatan intelektual generasi muda Indonesia di luar negeri dalam isu kebudayaan, sejarah, dan pembangunan masyarakat kepulauan, sekaligus mendorong kontribusi diaspora dalam program pengabdian kepada masyarakat di tanah air. **
Posted in Berita