Berita

Home » Berita » Dosen Sejarah Gelar Pelatihan Tari Sawat Libatkan Maestro Pulau Ay

Pelatih Sawat

Dosen Sejarah Gelar Pelatihan Tari Sawat Libatkan Maestro Pulau Ay

SEJARAHnews, Banda – Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Banda Naira, sekaligus penerima manfaat dari program Danaindonesiana, Kasman Renyaan, menggelar edukasi dan pelatihan Tari Sawat dengan melibatkan tiga maestro seni tradisional Sawat dari Pulau Ay, Kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku.

Kegiatan yang didukung Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia itu melibatkan 29 siswa MA Sairun di Pulau Ay, baik sebagai penari maupun penabuh gendang Sawat. Pelatihan berlangsung dalam enam kali pertemuan sejak minggu kedua hingga 26 April 2026.

Program itu menitikberatkan pada praktik seni pertunjukan Sawat. Para peserta tidak hanya dilatih menari, tetapi juga mempelajari musik tradisional Sawat, mulai dari gendang Sawat, suling, tiwal, hingga teknik tari Sawat.

Tiga pelatih utama (maestro) yang terlibat dalam kegiatan itu antara lain, bapak Senen Hamid dan Hamri, bersama tiga asisten pelatih yang selama ini aktif menjaga keberlanjutan seni budaya Sawat di masyarakat Pulau Ay.

Setiap pelatih memiliki keahlian berbeda dalam tradisi Sawat. Seorang pelatih mendalami permainan gendang Sawat, pelatih lainnya fokus pada suling Sawat, sementara pelatih lain menguasai seni tari sekaligus permainan gendang Sawat. Seluruh pelatih merupakan pemain Sawat senior yang telah lama terlibat dalam berbagai pertunjukan budaya di Pulau Ay maupun Banda Naira.

Kasman Renyaan, mengatakan keterlibatan para maestro penting untuk memastikan proses pewarisan budaya berlangsung secara langsung dari generasi terdahulu kepada generasi muda. Menurut dia, pelatihan itu, tidak hanya mengajarkan teknik menari, tetapi juga memperkuat pemahaman peserta terhadap nilai budaya dan tradisi Sawat.

Senen Hamid mengatakan dirinya telah mengenal Tari Sawat sejak usia kecil melalui lingkungan keluarga yang aktif memainkan musik tradisional Sawat.

“Saya menguasai teknik gendang dan tari Sawat sejak kecil. Orang tua saya adalah pemain Sawat yang belajar dan kemudian mementaskan tari ini, bahkan hingga Seram Timur,” kata Senen dalam sesi wawancara.

Menurut Senen, kemampuan memainkan musik tradisional dan menarikan Sawat diwariskan secara turun-temurun dalam keluarganya. Tradisi tersebut terus dijaga melalui keterlibatan aktif dalam pertunjukan budaya dan pelatihan bagi generasi muda.

Ia berharap pelatihan semacam ini dapat menjadi ruang penting untuk menjaga keberlanjutan Tari Sawat sebagai identitas budaya masyarakat Pulau Ay. Generasi muda, kata dia, tidak hanya perlu mampu menampilkan tari tersebut, tetapi juga memahami sejarah dan makna budaya yang terkandung di dalamnya.

Posted in

Artikel Terbaru

Archives

Kategori