Berita

Home » Berita » Dosen Sejarah UBN Riset Tari Sawat di Pulau Ay

ba15d0e6-bea7-44cb-bb94-d5b6d0c4f210

Dosen Sejarah UBN Riset Tari Sawat di Pulau Ay

SEJARAHnews, Banda: Dosen Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Banda Naira (UBN), Kasman Renyaan, melaksanakan riset tentang Tari Sawat di Desa Pulau Ay, Kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah.

Penelitian ini bertujuan mendokumentasikan serta mengkaji nilai sejarah dan budaya yang terkandung dalam tarian tradisional tersebut.

Turut terlibat dalam penelitian ini adalah Varis Vadly Sanduan, M.Si, seorang antropolog alumni Universitas Hasanuddin, yang juga menjadi dosen sejarah di UBN dan dua dosen UBN Lainya, yakni Winto La Tani, M.Pd serta Supriadi La Awe, M.Pd dari tim dokumentasi (dokumenter) sejarah dari komunitas Naira Sinema. Kolaborasi lintas disiplin dan keahlian ini diharapkan dapat memperkaya kajian ilmiah mengenai Tari Sawat sebagai warisan budaya masyarakat Pulau Ay.

Kasman Renyaan, dalam lirisnya kepada media ini, Senin (27/04/2026), menuturkan bahwa riset seni tari tradisional ini tidak hanya menyoroti aspek budaya semata, tetapi menelaah dimensi sejarah serta proses akulturasi Tari Sawat ke dalam kehidupan masyarakat Pulau Ay.

“Tari Sawat merupakan bagian penting dari identitas budaya masyarakat Pulau Ay. Kesenian ini terbentuk melalui interaksi sosial dan proses akulturasi budaya Melayu, Arab, dan India dengan sejarah masyarakat Banda, khususnya Pulau Ay, sebagai ruang perjumpaan berbagai budaya pada masa lalu. Hal tersebut tidak terlepas dari posisi Kepulauan Banda sebagai pusat produksi pala yang sejak dahulu didatangi oleh berbagai bangsa.”

Selain itu, penelitian ini juga melibatkan Dosen Perikanan UBN, Idul La Muhammad, M.Si, yang meneliti hubungan antara gerakan tari dengan aktivitas kehidupan masyarakat nelayan. Ia menjelaskan bahwa Pasalnya dalam Tari Sawat, terdapat unsur gerakan yang merepresentasikan aktivitas keseharian nelayan tradisional, khususnya gerakan mendayung perahu.

Dalam istilah masyarakat Pulau Ay, gerakan itu dikenal dengan sebutan Sawat Dayung. Dayung sendiri merupakan alat penggerak perahu yang digunakan secara manual oleh nelayan saat berlayar dan mencari ikan di laut. Unsur gerakan ini menunjukkan keterkaitan erat antara seni tari dengan lingkungan hidup serta mata pencaharian masyarakat setempat.

Dalam penelitian ini, tim peneliti yang berasal dari akademisi UBN itu, juga melakukan observasi lapangan, wawancara dengan tokoh adat, dan pelaku seni, serta dokumentasi pertunjukan Tari Sawat sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya lokal.

Hasil riset ini diharapkan dapat menjadi bahan rujukan akademik sekaligus mendukung program pemajuan kebudayaan di wilayah Kepulauan Banda, khususnya di Pulau Ay sebagai desa wisata.

Posted in

Artikel Terbaru

Archives

Kategori